Curah Hujan Tinggi, Pemprov DKI Optimalkan Sistem Pengendalian Banjir
INFOMAYATARA.XYZ
Jakarta - Sejumlah pintu air di Provinsi DKI Jakarta mencatatkan kenaikan tinggi muka air (TMA) pada Jumat (23/1/2026) dini hari, seiring potensi hujan lebat hingga ekstrem yang masih diperkirakan berlangsung di wilayah Jabodetabek. Kondisi ini meningkatkan risiko banjir dan genangan, terutama di kawasan hilir serta bantaran sungai.
Berdasarkan data Dinas Sumber Daya Air (SDA) Provinsi DKI Jakarta per pukul 02.00 WIB, Pos Angke Hulu mencatatkan TMA 375 sentimeter dan berada pada status siaga, menjadi salah satu titik dengan ketinggian air tertinggi. Pintu Air Karet juga menunjukkan peningkatan dengan TMA mencapai 530 sentimeter.
Staf Khusus Gubernur DKI Jakarta, Chiko Hakim pada Kamis (22/1/2026) menjelaskan intensitas hujan yang sangat tinggi menjadi faktor utama meningkatnya debit air di sejumlah titik. Curah hujan yang tercatat bahkan melampaui 200 milimeter, jauh di atas ambang hujan lebat.
“Curah hujan seperti ini sudah masuk kategori ekstrem. Bahkan 100 milimeter saja sudah sangat tinggi. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Jakarta, tetapi juga di sejumlah wilayah Indonesia sebagai dampak perubahan iklim global,” ujarnya.
Untuk mengurangi dampak banjir, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus melaksanakan operasi modifikasi cuaca secara berkelanjutan dan dijadwalkan kembali dilakukan dua kali dalam waktu dekat. Langkah ini menjadi bagian dari upaya pengendalian curah hujan di wilayah hulu dan sekitar Jakarta.
Selain itu, Gubernur DKI Jakarta menginstruksikan Dinas SDA untuk mengoperasikan 1.200 unit pompa, terdiri atas 600 pompa statis dan 600 pompa mobile. Pengoperasian pompa dilakukan guna mempercepat penyurutan genangan di kawasan permukiman dan ruas jalan. “Pompa bekerja maksimal. Ini upaya jangka pendek agar genangan bisa segera surut, sambil kami terus memantau kondisi cuaca,” jelasnya.
Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan langkah jangka menengah dan panjang, termasuk perbaikan sistem drainase, normalisasi sungai, serta peningkatan kapasitas infrastruktur pengendalian banjir. Terkait genangan di ruas jalan, Chiko mengakui kapasitas drainase di sejumlah kawasan belum mampu mengimbangi curah hujan ekstrem. Urbanisasi dan pembangunan yang tidak diiringi sistem drainase memadai menjadi tantangan struktural yang dibenahi secara bertahap.
“Perbaikan saluran air sudah tidak bisa ditunda. Namun pekerjaan fisik di lapangan memang cukup sulit dilakukan saat hujan turun terus-menerus,” ujarnya.
Pemprov DKI Jakarta mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan, membatasi aktivitas luar ruang jika tidak mendesak, serta menjaga kebersihan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan.
Sementara itu, di wilayah hulu, Bendung Katulampa terpantau berada pada ketinggian 80 sentimeter dan Pos Depok mencatatkan 150 sentimeter. Pintu Air Manggarai BKB berada di kisaran 735 sentimeter dan relatif stabil sejak tengah malam.
Untuk wilayah pesisir, Pasar Ikan–Laut mencatatkan TMA 183 sentimeter, sedangkan Waduk Pluit berada di angka minus 165 sentimeter dan masih dalam kondisi terkendali. Sejumlah pos lainnya, seperti Sunter Hulu dengan TMA 240 sentimeter dan Pulo Gadung 350 sentimeter, terus dipantau secara intensif.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sebelumnya mengingatkan potensi hujan sangat lebat hingga ekstrem di wilayah Banten dan DKI Jakarta dalam beberapa hari ke depan. Kondisi ini dipicu dinamika atmosfer, termasuk pengaruh bibit Siklon Tropis 91S di Samudra Hindia, yang berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan dan intensitas curah hujan.
BMKG menilai hujan berintensitas tinggi dapat menyebabkan peningkatan debit sungai secara cepat dan memicu genangan di wilayah padat penduduk, khususnya Jakarta bagian tengah, barat, dan utara. Pemprov DKI Jakarta memastikan pemantauan pintu air dan sistem pengendalian banjir dilakukan selama 24 jam sebagai langkah antisipasi.
Red